Prioritas Amal dan Takdir

Teman kostku pernah bilang begini: “Pendidikan itu bukan untuk mencari uang, tapi untuk mencari ilmu.” Sepintas, kita bisa langsung membenarkan pendapat ini. Tapi buat saya, ini sangat membingungkan. Bayangkan, bukankah orang yang mempunyai ilmu itu mempunyai kecenderungan yang lebih besar untuk bisa mencari uang dengan mudah?

Saya pikir, setiap orang yang mempunyai kemampuan untuk bisa menghasilkan uang sebanyak-banyaknya harus menggunakan kemampuannya itu. Kenapa? Karena mereka mempunyai tanggungjawab yang besar terhadap orang- orang miskin yang tidak seberuntung sepertinya. Maksud saya, ia punya tanggung jawab menggunakan kekayaannya itu untuk disedekahkan kepada mereka yang lebih miskin. Bukankah orang miskin di Negara ini masih sangat banyak? Lalu kepada siapa lagi kalau bukan kepada orang-orang pintar tadi tanggung jawab ini dibebankan?

Sekian lama saya berpikir, ternyata pemikiran saya tersebut tidak selamanya benar, bahkan cenderung arogan. Kenapa? Karena tidak begitu sesuai dengan prioritas amal dan konsep takdir. Begini, setiap orang dilahirkan dengan takdirnya masing-masing. Oleh karena itu, kita harus dengan ikhlas menerima takdir kita masing-masing. Seorang presiden harus menerima takdirnya untuk memimpin Negara, mungkin suatu saat ia akan dikudeta oleh rakyatknya karena mengusung idealisme yang ditentang rakyat. Seorang tukang sapu harus menerima takdirnya untuk membersihkan jalanan dari sampah, setiap hari ia pulang ke rumah bertemu istri dan anaknya masih berbau sampah. Seorang anak harus menyayangi ibunya, mungkin suatu saat ibunya tidak bisa buang air besar sendiri. Maka ialah yang harus membersihkan kotorannya.

Prioritas Amal

Agama islam memberikan tuntunan kepada kita dalam membuat prioritas amal ibadah kita. Dulu, ada muslim pada zaman Rasul yang meminta izin ikut berperang padahal ia memiliki tanggungan orangtua yang renta. Kemudian, Rasul memerintahkannya supaya merawat orangtuanya tadi dan tidak ikut berperang. Hal ini juga berlaku bagi para penghafal Al Quran. Dari sini, kita pasti akan membenarkan sikap Lintang (dalam film Laskar Pelangi) ketika ia memilih bekerja untuk memenuhi nafkah adik-adiknya daripada meneruskan sekolahnya, meskipun ia juara kelas.

Saya pikir tidak semua orang pintar harus kaya, karena korelasi antara keduanya tidak terlalu dekat. Manfaat dari ilmu yang ia dapatkan bagi masyarakat tidak harus berupa uang. Orang berilmu bisa menjadi ilmuan, mendedikasikan kemampuannya unuk menemukan hal-hal baru yang bermanfaat. Orang berilmu bisa menjadi ulama yang menjaga nilai-nilai agama di dalam masyarakat. Orang berilmu bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik, yang mendidik anak-anaknya dengan baik, membentuk karakter mereka dengan pemahaman agama yang baik, mendukung dan memberi masukan kepada suaminya. Orang berilmu bisa menjadi anak yang baik bagi ibunya, merawatnya di usia lanjut, mengajarinya agama sebagai bekal kehidupan akhirat.

Saya sadar bahwa ternyata masalah terbesar masyarakat kita bukan kemiskinan. Masalah terbesar mereka adalah moral, cara pandang terhadap kehidupan, cara hidup. Ini dialami oleh sangat banyak anggota masyarakat, baik kaya maupun miskin. Bahkan mereka sebenarnya tidak mengerti bahwa mereka sedang berhadapan dengan masalah ini. Oleh karena itu, walaupun ilmu kita banyak dan kita mempunyai akses yang besar untuk bisa kaya, bukan berarti kita harus menjadi orang kaya. Bisa jadi, menjadi pekerja sosial, ibu rumah tangga, anak yang baik, ulama yang baik, guru yang baik adalah lebih dibutuhkan masyarakat kita.

Saya pikir memilih pekerjaan adalah sesuatu yang sama sekali tidak mudah. Akan sangat besar konsekuensi yang harus kita tanggung dari pilihan tersebut. Bagaimana menurut anda?

Tinggalkan Balasan