Rahasia di Balik Materi dan Dunia Indrawi

Pernahkah anda membayangkan, kursi yang anda duduki ternyata hanyalah imajinasi anda saja? Makanan yang anda makan setiap hari juga imajinasi? Atau bahkan bumi yang anda pijaki, langit, matahari, bulan, bintang, galaksi, alam semesta dan juga diri anda sendiri merupakan imajinasi saja? Inilah kira-kira ide dasar dari film Rahasia di Balik Materi karya Harun Yahya.

Kita sering mengatakan bahwa dunia yang sekarang kita tinggali ini sebagai dunia materi. Kursi, makanan, bumi, langit, matahari, bulan, bintang dan alam semesta ini kita sebut sebagai materi, kenapa? Karena itu semua dapat kita lihat dan kita raba. Semuanya itu mempunyai bentuk dan tekstur,  serta menempati ruang.

Melihat dan Meraba/Merasa

Materi, misalnya saja lilin yang bercahaya bisa kita lihat karena cahayanya dapat ditangkap oleh mata kita. Cahaya ini diubah oleh syaraf sensorik menjadi sinyal-sinyal listrik dan diteruskan ke otak. Otak menginterpretasikan sinyal ini sebagai sebuah ‘lilin yang bercahaya’. Proses seperti ini dapat terjadi hanya pada orang dengan mata sehat/ tidak buta. Orang yang buta tidak akan mengenali lilin sebagai sebuah ‘lilin’.

mata

Saat seseorang meraba lilin tadi, proses yang hampir sama dengan proses melihat tadi terjadi. Rangsangan tekstur lilin tadi diubah menjadi sinyal-sinyal listrik dan diteruskan oleh syaraf sensorik ke otak. Otak menginterpretasikannya sebagai sebuah ‘lilin’.

Dari dua proses di atas timbul suatu pertanyaan besar yang akan menggugah pemikiran dan pemahaman kita mengenai dunia ini. Pertanyaan itu adalah, apakah lilin itu benar-benar sebuah materi ‘lilin’ atau hanyalah sinyal-sinyal listrik yang diinterpretasikan menjadi sebuah lilin oleh otak kita? Bukankah seseorang yang bermimpi melihat lilin juga mengira bahwa lilin yang ada dalam mimpinya adalah materi ‘lilin’ seperti dalam kehidupan nyata?

Bayangkan jika ada orang buta yang juga tidak punya indera perasa/peraba. Bagaimana menurutnya mengenai lilin tadi? Apakah ia akan mengenalinya sebagai sebuah lilin? Sesuatu yang dinamakan materi itu ternyata hanya dapat kita rasakan keberadaannya jika kita mempunyai indera, mata atau indera peraba. Dari sini timbul suatu pemahaman bahwa sangat boleh jadi lilin tadi dan semua yang sekarang kita sebut sebagai materi hanyalah imajinasi otak kita saja. Bahkan otak kitapun termasuk di dalamnya.

Dunia yang Fana dan Akhirat yang Kekal

Pemahaman mengenai hakikat materi tadi seharusnya mengantar kita untuk memahami bahwa alam dunia ini adalah fana, hanya tipuan belaka, fatamorgana, halusinasi. Kemudian, kita harus meyakini bahwa dunia yang kita sebut sebagai dunia gaib itulah yang absolut, yang hakiki. Dunia gaib memang tidak bisa kita raba dan lihat, tetapi sekarang kita sudah tahu bahwa dapat dilihat dan diraba tidak mengindikasikan sesuatu sebagai kenyataan.

Ini seharusnya bisa menjadi pupuk bagi keimanan kita terhadap hal-hal gaib. Alloh SWT tidak dapat kita lihat dan raba, tetapi Ia-lah yang absolute, yang hakiki, yang nyata. Sedangkan kita? Kita dan alam semesta yang sekarang kita tempati ini adalah fana, ilusi, fatamorgana, tidak nyata.

*Tulisan ini berdasarkan pemahaman penulis terhadap film Rahasia di Balik Materi karya harun Yahya

Tinggalkan Balasan