Sebuah Refleksi Bagi Kaum Muda

Siapa pencetus nasionalisme perjuangan kemerdekaan Indonesia? Siapa aktor di balik Revolusi 1966? Siapa dalang Reformasi 2008? Jawabannya pastilah pemuda. Sejarah telah membuktikan bahwa pemuda adalah agen perubahan di negeri ini. Lalu, apakah ini membuktikan juga bahwa pemuda telah berhasil menjalankan perannya secara utuh?

Sayyidina Ali RA pernah mengatakan bahwa kemajuan suatu bangsa/Negara bergantung pada kualitas pemudanya. Artinya, jika kualitas pemudanya baik, maka akan baik pula peradaban suatu bangsa/Negara. Bagaimana dengan Negara kita? Saya kira kita sepakat bahwa impian peradaban yang madani dari bangsa ini masih jauh dari genggaman. Oleh karena itu, kita harus juga sepakat bahwa, kualitas pemuda bangsa kita belum baik.

Sukarno muda adalah Sukarno yang penuh dengan idealism. Sukarno tua adalah Sukarno yang banyak mengalami kegagalan dalam mewujudkan idealismenya. Gagasannya tentang Nasakom gagal total. Kekuasaannya kemudian digulingkan oleh pemuda.

Suharto muda adalah pejuang revolusi yang bekerja keras mempertahankan NKRI. Suharto tua lengser gara-gara korupsi, kolusi dan nepotisme oleh pemuda. Lebih dari itu, banyak pemuda yang ikut dalam gerakan Revolusi 1966 justru kemudian tersandung kasus korupsi pada masa tuanya. Sangat boleh jadi, pemuda yang ikut menggulingkan kekuasaan Suharto juga akan mengalami nasib yang serupa suatu saat nanti.

Permasalahan

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. (QS. Al Lail 5-10)

Dari ayat diatas, dapat diketahui bahwa orang yang suka berderma, bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang baik akan dimudahkan Allah baginya melakukan kebaikan yang membawa kepada kebahagiaan di akhirat, tetapi orang yang tidak bertakwa dan melakukan perbuatan dosa akan dimudahkan Allah baginya melakukan kejahatan-kejahatan yang membawa kepada kesengsaraan di akhirat.Orang yang meniatkan hidupnya dan berusaha untuk berbuat dosa akan difasilitasi oleh Alloh SWT untuk berbuat dosa, dan orang yang meniatkan hidupnya dan berusaha untuk berbuat kebajikan akan difasilitasi oleh Alloh SWT kemudahan untuk meraihnya.

Konsekuensi dari ayat di atas adalah orang yang membiasakan diri melakukan perbuatan dosa, akan sangat mudah untuk melakukan perbuatan dosa kembali di lain waktu, baik dosa yang sama maupun tidak, dan sebaliknya. Sebagai contoh, seorang yang berbohong pasti akan mengulangi kebohongannya sebagai upaya untuk menutupi kebohongan yang terdahulu. Sangat boleh jadi, orang yang durhaka terhadap kedua orangtua pada masa mudanya akan tersandung kasus korupsi di kemudian hari, meskipun tidak pernah meniatkannya pada saat muda.

Ketika seseorang berbuat dosa dan tidak segera bertaubat, kadar imannya akan turun. Orang dengan iman yang lemah lebih mudah untuk dibujuk oleh syaitan untuk memperturutkan hawa nafsunya, dan tidak menggunakan potensi akal dan hatinya. Pada saat demikian, hidayah Alloh SWT. akan susah untuk diterima (kecuali jika Alloh SWT. berkehendak lain), sehingga sangat mudah bagi seseorang untuk melakukan perbuatan dosa lagi. Begitu seterusnya.

Tentunya, jika kita memimpikan peradaban yang madani pada bangsa ini, kita harus mau mengoreksi diri kita. Bermuhasabah, menghitung setiap dosa dan kesalahan kita dari yang besar sampai yang sekecil-kecilnya. Tidak ada dosa yang kecil jika terus kita sepelekan. Bertaubat, menyesali, memohon ampun dan berjanji tidak akan mengulangi kembali dosa yang telah dikerjakan tadi.

Kita, sebagai generasi muda harus mau memulai lembaran hidup yang baru. Hidup yang patuh pada ajaran agama, memuliakan orangtua, menjaga pandangan, menjauhi zina, berakhlak mulia, hidup sederhana, disiplin, membudayakan senyum, berusaha menggembirakan orang lain, menjaga kebersihan, tidak mencontek, tidak membuang waktu dengan percuma, tidak makan dengan tangan kiri bahkan tidak tidur dalam posisi tengkurap dan lain sebagainya sembari terus mengharap hidayah dari Alloh SWT.

Pada akhirnya, hak Alloh-lah untuk mewujudkan atau tidak mewujudkan mimpi kita, idealism kita tadi, masyarakat yang madani. Namun, Alloh SWT pasti akan mencatat segala amal perbuatan yang baik dan yang diniatkan untuk mencapai ridho Alloh SWT semata. Semoga hidayah Alloh SWT menyertai kita semuanya. Aamiin.

*Dengan segala hormat, penulis tidak bermaksud menistakan Bapak Sukarno dan Bapak Suharto karena bagaimanapun mereka pernah menjadi pimpinan bagi bangsa ini. Penulis hanya ingin menggambarkan betapa kegagalan yang mereka alami seharusnya bisa dipelajari agar tidak terulang di kemudian hari.

**Seperti khutbah jum’at, tulisan ini juga harus menjadi wasiat bagi penulis sendiri. Semoga penulis bisa melaksanakan apa yang sudah ia wasiatkan sendiri dalam tulisan ini.

Tinggalkan Balasan