Mengapa Bioetanol?

Saat terjadi lonjakan harga minyak dunia hingga mencapai US$ 70/barel perekonomian dunia sangat terganggu. Di Indonesia, keadaan semacam ini sering diperparah dengan aksi-aksi penyelundupan minyak yang telah merugikan Negara tidak kurang dari 8,8 trilyun pertahun. Selain itu, kelangkaan BBM sering terjadi di Indonesia.

Dari segi APBN, subsidi BBM di Indonesia masih dinilai cukup tinggi.  Tak pelak, krisis BBM ini disinyalir dapat berimbas melemahnya rupiah terhadap dolar. Subsidi yang cukup besar di Indonesia (sekitar 25%) merupakan pemecahan masalah instant ketika kebutuhan masyarakat terhadap BBM tinggi (mencapai 215 juta liter per hari), sedangkan daya beli mereka rendah. Padahal, jika ini terus dilanjutkan, ketergantungan masyarakat terhadap BBM akan semakin tinggi, padahal BBM merupakan sumber daya yang tak terbarukan.

Diperkirakan, dengan teknologi yang ada sekarang, cadangan minyak dunia tidak akan bertahan lebih lama dari 50 tahun. Jika ditelaah lebih jauh, ketergantungan terhadap bahan bakar fosil setidaknya memiliki tiga ancaman serius, yakni: (1) Menipisnya cadangan minyak bumi yang diketahui (bila tanpa temuan sumur minyak baru), (2) Kenaikan/ketidakstabilan harga akibat laju permintaan yang lebih besar dari produksi minyak, dan (3) Polusi gas rumah kaca (terutama CO2) akibat pembakaran bahan bakar fosil. Berdasarkan protocol Kyoto, penggunaan MTBE (Metil Tersiet Butil Ester) yang sering dicampurkan pada bensin seharusnya telah dihapuskan. Hal ini karena MTBE berperan dalam memproduksi gas rumah kaca (CO­2) yang dapat menyebabkan pemanasan global. Jadi, dari berbagai macam masalah yang terjadi dalam penggunaan bahan bakar fosil terutama BBM, sudah saatnya sumber energi baru yang terbarukan sekaligus ramah lingkungan dikembangkan. Bioetanol merupakan alternative penyedia energi dunia.

Bioetanol

Bioetanol merupakan senyawa alkohol yang diperoleh lewat proses fermentasi biomassa dengan bantuan mikroorganisme. Bahan baku pembuatan bioetanol dapat berupa ubikayu, jagung, ubijalar, dan tebu. Semuanya merupakan tanaman penghasil karbohidrat yang sangat mudah ditemukan di Indonesia karena iklim dan keadaan tanah Indonesia yang mendukung pertumbuhan tanaman tersebut.Di Indonesia, ubikayu dinilai sebagai sumber karbohidrat yang paling potensial untuk diolah menjadi bioetanol. Hal ini karena ubikayu memiliki daya tahan yang tinggi terhadap penyakit ,dapat diatur waktu panennya serta dapat tumbuh di tempat yang kurang subur. Namun, kadar patinya tergolong rendah (30%)-bandingkan dengan jagung (70%) dan tebu (55%).

Brazil merupakan negara yang telah berhasil mengembangkan bioetanol. Di Brazil pada tahun 1990-an, etanol telah menggantikan 50% kebutuhan bensin untuk keperluan transportasi. Dari angka ini, bioetanol telah mampu menurunkan emisi CO2 hingga 18%.

Prospek pengembangan

Selain berupa bioetanol murni, bioetanol dapat dicampur dengan bensin sehingga dihasilkan gasohol. E-10 merupakan contoh gasohol yang telah digunakan di Indonesia, yaitu gasohol yang mempunyai kadar etanol 10%. Dengan kadar etanol 10% ini dapat direduksi kadar CO yang dibuang sebanyak 40% lebih banyak dari pertamax dan premium. Berdasarkan percobaan BPPT, E10 hanya menghasilkan residu CO 0,31 gram per kilometer. Pada saat yang sama premium dan pertamax masing-masing 0,5 gram dan 0,58 gram per kilometer. Untuk mobil konvensional, maksimum kadar etanol dalam campuran gasohol adalah 24%.

Bioetanol merupakan komoditas yang menjanjikan bagi Indonesia. Paling tidak ada tiga faktor yang menyebabkan cerahnya prospek pengembangan bioetanol. Faktor-faktor itu antra lain adalah : 1. Kebutuhan energi yang tinggi dengan daya beli yang kecil dari masyarakat, 2. mudahnya mendapatkan bahan baku dengan harga yang murah, 3. ketersediaan lahan yang relatif memadai.Kebutuhan energi yang tinggi dengan daya beli masyarakat Indonesia yang rendah dapat diatasi dengan penggunaan bioetanol. Hal ini karena pada kondisi harga minyak mentah saat ini biaya produksi bioetanolcenderung lebih murah bila dibandingkan dengan bensin. Biaya produksi bioetanol sangat dipengaruhi oleh bahan bakar yang digunakan dalam proses produksinya. Saat ini, Pada kapasitas produksi bioetanol 60 kiloliter per hari, biaya pokok produksinya Rp 2.400.

Sementara itu, dengan harga minyak mentah mendekati 60 dollar AS per barrel, biaya pokok produksi BBM meningkat mendekati Rp 4.000 per liter. Brazil merupakan negara yang mampu memproduksi bioetanol dengan harga termurah. Ini karena listrik dan steam yang digunakan dalam proses dapat dipenuhi melalui pembakaran ampas tebu, sehingga biaya produksinya cuma separuh harga bensin.Di lain pihak, dengan produktifitas rata-rata bioetanol 5.000 liter/ha per- tahun, jika diasumsikan konsumsi seluruh bensin sebesar 16 juta kilo per-tahun dapat diproduksi dengan budidaya bahan baku seluas 3,2 juta hektar saja (1,7% dari luas daratan Indonesia). Jika dalam waktu dekat ini, bahan baku serat selulosa (jerami dan sejenisnya) dapat bersaing dengan pati-patian dan gula, jumlah lahan yang digunakan menjadi lebih sedikit. Selain itu, di Indonesia dengan lautnya yang luas berpotensi dibudidayakan ganggang laut yang juga dapat menjadi bahan baku bioetanol.

Prospek bisnis

Dilihat dari segi bisnis, bioetanol mempunyai prospek yang bagus. Sebagai gambaran, biaya investasi kilang bioetanol kapasitas 100 kL/hari berkisar antara Rp 2-3 milyar per-kiloliternya. Dengan harga etanol yang dihitung sama dengan bensin saja, pembangunan 1 pabrik ukuran ini akan menghemat devisa untuk impor bensin sebesar 33.000 kL/tahun x Rp 5.450,- /liter atau Rp 179.850.000.000,-. Dari sudut pandang pemerintah, penggunaan bioetanol juga sangat menguntungkan. Dengan asumsi subsidi untuk BBM Rp 89.2 triliun dan seperempat BBM kita adalah bensin, maka diperoleh angka Rp 22,3 triliun yang dapat digunakan untuk membangun pabrik bioetanol 89 buah @ kapasitas 100 kL/hari. Bioetanol yang dihasilkan adalah 2.937.000 kL/tahun atau mensubsitusi hampir 20 % kebutuhan bensin di tanah air dengan penghematan devisa Rp 89,2 triliun. Ini nantinya akan berdampak pada tersedianya lapangan pekerjaan besar-besaran bagi masyarkat, terutama karyawan pabrik maupun petani.

Butuh kebijaksanaan pemakaian

Terlepas dari analisa bagusnya prospek pengembangan bioetanol, masyarakat, pelaku bisnis dan pemerintah diwajibkan untuk bijaksana dalam mengambil langkah. Selain kebaikan-kebaikan yang telah dipaparkan ternyata pengembangan bioetanol disinyalir mempunyai kekurangan. Kekurangan tersebut antara lain adalah: 1. penggunaan karbohidrat yang besar berpotensi untuk menyaingi kebutuhan makanan pokok, 2. berpotensi menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati melalui monokultur bahan baku berikut praktek-praktek pertanian yang merusak kualitas lahan, 3. penggunaan lahan yang besar berpotensi terhadap pembukaan lahan (sangat mungkin hutan).Melihat beberapa kelebihan dan kekurangan yang dimiliki bioetanol, agaknya memang sudah saatnya Indonesia menggunakan bioetanol, dengan syarat dibarengi dengan perundang-undangan yang baik serta pengembangan teknologi yang sepadan. Pada masa yang akan datang diharapkan bahan baku bioetanol lebih banyak berasal dari selulosa (misal tahi kayu hasil penggergajian) maupun ganggang, karena tidak berpotensi bersaing dengan kebutuhan pangan pokok serta tidak memerlukan pembukaan lahan yang besar di daratan. (Have Written On February 2007)

6 Tanggapan

  1. saya ingin mengetahui lebih jelas tentang teknologi pembuatan bioetanol khususnya dari tebu.. tolong bantuannya..
    sebelum dan sesudahnya diucapkan terima kasih.

  2. salam kenal … kami salut dg artikrl bio etanol , kalau Pemerintah mau komitment dengn projeck ini alangkah dasyatnya negara kita bisa melepas minyak shg negara superpower tunduk ke kita ( minyak Bumi ) saaaaaaalut, kalu bisa contoh proses pembuatan dan mesin sederhananya. Sukses selalu.Amin

  3. Setuju!! bagaimanapun bahan bakar minyak fosil pada waktunya akan habis dan tidak terbarukan dalam waktu singkat. Maka, energi bahan bakar nabati adalah salah satu solusi yang bisa menjawab masalah energi dunia. Tapi kenapa informasi ini masih tidak banyak, terutama untuk pengembangan usaha kecil dan menengah yang dapat dilibatkan dalam usaha energi alternatif ini. Mohon diberikan informasi yang seluas-luas masalah teknis, analisa ekonomi, kemitraan, dll. Terima kasih.

  4. Wah, ahli Elektro menguasai masalah bioetanol juga nih Gil? mantap deh!

  5. Lebih ramah linkungan, cuma kasihan sapi nggak bisa makan singkong lagi … makannya cuma ampas singkong limbah bioetanol :D

  6. itulah ciri khas masyarakat indonesia.kalo tidak kepepet dan terdesak akan kebutuhan bahan bakar fosil yangterus melambung tinggi, terobosan untk mencari bahan bakar alternativ salah satunya bioetanol tidak akan di laksanakan.
    perlu dukungan pemerintah,praktisi maupun peneliti agar sumber daya yang ada di bumi Indonesia bisa dapat dimanfaatkan maksimal

Tinggalkan Balasan