Kata pahlawan agaknya tidak asing lagi bagi kita. Dengung istilah ini paling tidak masih membekas dalam ingatan kita. Istilah ini mau tidak mau mengajak kita bernostalgia dengan masa-masa di bangku sekolah dasar. Masa di mana kita diperkenalkan dengan istilah Pahlawan Kebangsaan, Pahlawan Revolusi, bahkan sampai dengan Pahlawan Reformasi. Namun, sejauh apakah pemahaman kita tentang pahlawan?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan berasal dari kata ‘pahala’ dan kata ’wan’. Sepintas lalu, kita dapat mengartikan pahlawan sebagai orang yang bekerja untuk mendapatkan pahala. Dalam pengertian ini, seorang pahlawan selalu berorientasi pada pahala. Lalu, haruskah kita berjenggot panjang dan bersorban tebal untuk bisa meraih gelar pahlawan?
Jika ditilik lebih jauh, pemahaman tentang pahlawan sangatlah kontekstual. Seorang pemimpin merupakan pahlawan bagi rakyatnya, seorang guru merupakan pahlawan bagi muridnya, seorang dokter merupakan pahlawan bagi pasiennya, bahkan seorang ayah merupakan pahlawan bagi anak dan keluarganya. Kesimpulan sementara kita menyatakan bahwa seorang pahlawan adalah orang yang bisa bermanfaat bagi orang lain, atau singkatnya seseorang yang dibutuhkan orang lain.
Jadi, dari uraian di atas, siapakah sebenarnya yang patut menyandang gelar pahlawan sejati bagi kita? Sebagai seorang muslim tentunya kita sepakat bahwa hanya Muhammad SAW lah yang pantas menyandang gelar pahlawan sejati, karena beliaulah penyelamat umat manusia dalam tataran dua dimensi sekaligus, dimensi dunia dan dimensi akhirat. Hal ini tentunya menjadi suatu kewajaran karena sifat kerasulan yang diembannya langsung bersumber dari Allah SWT. Lalu, bolehkah kita memberi gelar pahlawan kepada selain Muhammad SAW? Jika ada, siapa?
Menarik mengupas tentang hakikat pahlawan karena dalam beberapa dekade terakhir ini Indonesia seakan-akan kehilangan figur seorang pahlawan. Kita merindukan figur-figur seperti Gajah Mada yang bertekad bulat menyatukan seantero Nusantara ataupun Pattimura yang dengan gagah berani mengorbankan nyawanya demi kemerdekaan Maluku dari penjajahan. Namun, sekarang pahlawan-pahlawan itu hanya dapat kita temukan dalam lembaran-lembaran buku sejarah yang jarang kita baca. Pattimura dan Gajah Mada hanya menjadi simbol kepahlawanan yang tak mampu kita tiru dan realisasikan semangat juangnya, keberanian dan kerelaannya berkorban.
Rakyat Indonesia kemudian mencari-cari siapakah sebenarnya figur yang patut untuk dijadikan pahlawan, figur panutan dan teladan. Hal ini kemudian merangsang munculnya kembali mitos tentang ratu adil yang konon akan datang untuk memimpin negeri ini serta mengantarkannya menuju puncak kejayaannya. Rakyat Indonesia kemudian seolah-olah hanya mampu pasrah pada keadaan karena selalu menunggu dan berharap kedatangan ratu adil yang dijanjikan itu.
Menyikapi hal tersebut di atas, Anis Matta -seorang penulis- dalam bukunya ‘Mencari Pahlawan Indonesia’ menuturkan bahwa kecenderungan menunggu ratu adil merupakan langkah mundur bangsa dan oleh karenanya perlu ada penyadaran kepada rakyat bahwa ratu adil selamanya tidak akan pernah datang seperti yang dijanjikan dalam mitos. Ratu adil menurut Anis Matta ada dalam diri setiap insan Indonesia. “Ratu adil ada di sini, ratu adil adalah aku engkau dan kita semua,”ungkap Anis Mata. Selain itu, Anis Mata juga menyatakan bahwa kelangkaan figur pahlawan merupakan awal dari kematian suatu bangsa.
Dari paparan di atas kiranya dapat kita simpulkan bahwa sudah saatnya bangsa ini tersadarkan dari tidur panjang memimpikan datangnya ratu adil. Sudah saatnya mereka bergerak dan bertindak, karena pada hakikatnya jiwa kepahlawanan ada dalam setiap individu, tinggal kita gali dan kita bina. Setiap kita mampu untuk menjadi pahlawan, paling tidak untuk keluarga kita, saudara kita, atau sahabat kita.
Namun, setiap kita juga harus sadar bahwa pahlawan merupakan gelar yang sangat mulia, yang hanya pantas diberikan seseorang kepada yang lainnya karena perannya dalam kehidupan. Pahlawan bukanlah gelar yang dapat dikultus individukan seperti ketika Suharto manamai dirinya sebagai ‘bapak/pahlawan pembangunan’. Kita harus sadar bahwa dalam setiap amal baik yang kita lakukan terkandung nilai-nilai kepahlawanan. ketika kita rela berkorban untuk orang lain, di situlah jiwa kepahlawanan muncul.
Jadi, pertanyaan sebenarnya adalah sebesar apa usaha kita menggali jiwa-jiwa kepahlawanan dalam diri kita?
(Have Written On November 2006)
DIarsipkan di bawah: Umum