Beda Watt dengan Joule

Ketika seseorang membeli peralatan listrik, yang paling sering ditanyakan pasti besar Watt-nya. Pertanyaannya adalah, apakah biaya yang kita keluarkan untuk membayar tagihan PLN bergantung pada Watt, atau adakah criteria lain yang lebih akurat?

Setiap bulan kita membayar energi listrik yang kita pakai selama 1 bulan bersangkutan. Sedangkan Watt tidak merepresentasikan energy listrik. Watt merepresentasikan daya listrik. Energy listrik direpresentasikan dengan Joule, atau bisa juga KWh. Artinya, Watt tidak merepresentasikan tagihan listrik yang harus kita bayar. Bisa jadi, peralatan dengan Watt kecil bisa membuat tagihan listrik kita besar.

Arti Daya dan Energi Listrik

Energi sama juga dengan tenaga. Energy listrik berarti tenaga listrik yang digunakan peralatan listrik selama kurun waktu tertentu. Jika konsumsi listrik bulanan kita 100 kWh, berarti kita menggunakan tenaga listrik sejumlah 100 kWh dalam bulan yang bersangkutan. Daya atau power adalah jumlah energi yang dipakai tiap detik. Misalnya lampu 5 W berarti dalam satu detik tertentu menggunakan energy sebesar 5 Joule

Sebagai contoh seperti ini, kulkas dengan Watt 70W dan 100W. sekilas, kulkas 70W lebih ngirit daripada 100W. Tidak selamanya seperti itu, bisa jadi selama 1 hari kompresor kulkas 70W bekerja selama 18 jam, berarti selama satu hari energy yang digunakan sebesar 70×18=1260Wh atau 1,26 kWh. Di lain pihak bisa jadi kompresor kulkas 100W bekerja selama 12 jam tiap satu hari, berarti selama satu hari energy yang digunakan sebesar 100×12=1200Wh atau 1,2 kWh. Kalau kasusnya seperti ini, kulkas 70W lebih banyak menggunakan energy listrik dibandingkan kulkas 100W. oleh karena itu, jika kita memutuskan untuk membeli kulkas 70W, tagihan listrik akan lebih besar.

Kesimpulan

Untuk mengetahui keiritan penggunaan energy listrik oleh suatu peraalatan, tidak cukup dengan data Watt-nya saja. Kita perlu tahu konsumsi energy listrik oleh peralatan tersebut, misalnya dalam satu hari jika dibiarkan hidup. Kemudian, kita bandingkan dengan peralatan lain.

Sumber:

http://www.kajul.org/

Prioritas Amal dan Takdir

Teman kostku pernah bilang begini: “Pendidikan itu bukan untuk mencari uang, tapi untuk mencari ilmu.” Sepintas, kita bisa langsung membenarkan pendapat ini. Tapi buat saya, ini sangat membingungkan. Bayangkan, bukankah orang yang mempunyai ilmu itu mempunyai kecenderungan yang lebih besar untuk bisa mencari uang dengan mudah?

Saya pikir, setiap orang yang mempunyai kemampuan untuk bisa menghasilkan uang sebanyak-banyaknya harus menggunakan kemampuannya itu. Kenapa? Karena mereka mempunyai tanggungjawab yang besar terhadap orang- orang miskin yang tidak seberuntung sepertinya. Maksud saya, ia punya tanggung jawab menggunakan kekayaannya itu untuk disedekahkan kepada mereka yang lebih miskin. Bukankah orang miskin di Negara ini masih sangat banyak? Lalu kepada siapa lagi kalau bukan kepada orang-orang pintar tadi tanggung jawab ini dibebankan?

Sekian lama saya berpikir, ternyata pemikiran saya tersebut tidak selamanya benar, bahkan cenderung arogan. Kenapa? Karena tidak begitu sesuai dengan prioritas amal dan konsep takdir. Begini, setiap orang dilahirkan dengan takdirnya masing-masing. Oleh karena itu, kita harus dengan ikhlas menerima takdir kita masing-masing. Seorang presiden harus menerima takdirnya untuk memimpin Negara, mungkin suatu saat ia akan dikudeta oleh rakyatknya karena mengusung idealisme yang ditentang rakyat. Seorang tukang sapu harus menerima takdirnya untuk membersihkan jalanan dari sampah, setiap hari ia pulang ke rumah bertemu istri dan anaknya masih berbau sampah. Seorang anak harus menyayangi ibunya, mungkin suatu saat ibunya tidak bisa buang air besar sendiri. Maka ialah yang harus membersihkan kotorannya.

Prioritas Amal

Agama islam memberikan tuntunan kepada kita dalam membuat prioritas amal ibadah kita. Dulu, ada muslim pada zaman Rasul yang meminta izin ikut berperang padahal ia memiliki tanggungan orangtua yang renta. Kemudian, Rasul memerintahkannya supaya merawat orangtuanya tadi dan tidak ikut berperang. Hal ini juga berlaku bagi para penghafal Al Quran. Dari sini, kita pasti akan membenarkan sikap Lintang (dalam film Laskar Pelangi) ketika ia memilih bekerja untuk memenuhi nafkah adik-adiknya daripada meneruskan sekolahnya, meskipun ia juara kelas.

Saya pikir tidak semua orang pintar harus kaya, karena korelasi antara keduanya tidak terlalu dekat. Manfaat dari ilmu yang ia dapatkan bagi masyarakat tidak harus berupa uang. Orang berilmu bisa menjadi ilmuan, mendedikasikan kemampuannya unuk menemukan hal-hal baru yang bermanfaat. Orang berilmu bisa menjadi ulama yang menjaga nilai-nilai agama di dalam masyarakat. Orang berilmu bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik, yang mendidik anak-anaknya dengan baik, membentuk karakter mereka dengan pemahaman agama yang baik, mendukung dan memberi masukan kepada suaminya. Orang berilmu bisa menjadi anak yang baik bagi ibunya, merawatnya di usia lanjut, mengajarinya agama sebagai bekal kehidupan akhirat.

Saya sadar bahwa ternyata masalah terbesar masyarakat kita bukan kemiskinan. Masalah terbesar mereka adalah moral, cara pandang terhadap kehidupan, cara hidup. Ini dialami oleh sangat banyak anggota masyarakat, baik kaya maupun miskin. Bahkan mereka sebenarnya tidak mengerti bahwa mereka sedang berhadapan dengan masalah ini. Oleh karena itu, walaupun ilmu kita banyak dan kita mempunyai akses yang besar untuk bisa kaya, bukan berarti kita harus menjadi orang kaya. Bisa jadi, menjadi pekerja sosial, ibu rumah tangga, anak yang baik, ulama yang baik, guru yang baik adalah lebih dibutuhkan masyarakat kita.

Saya pikir memilih pekerjaan adalah sesuatu yang sama sekali tidak mudah. Akan sangat besar konsekuensi yang harus kita tanggung dari pilihan tersebut. Bagaimana menurut anda?

Rahasia di Balik Materi dan Dunia Indrawi

Pernahkah anda membayangkan, kursi yang anda duduki ternyata hanyalah imajinasi anda saja? Makanan yang anda makan setiap hari juga imajinasi? Atau bahkan bumi yang anda pijaki, langit, matahari, bulan, bintang, galaksi, alam semesta dan juga diri anda sendiri merupakan imajinasi saja? Inilah kira-kira ide dasar dari film Rahasia di Balik Materi karya Harun Yahya.

Kita sering mengatakan bahwa dunia yang sekarang kita tinggali ini sebagai dunia materi. Kursi, makanan, bumi, langit, matahari, bulan, bintang dan alam semesta ini kita sebut sebagai materi, kenapa? Karena itu semua dapat kita lihat dan kita raba. Semuanya itu mempunyai bentuk dan tekstur,  serta menempati ruang.

Melihat dan Meraba/Merasa

Materi, misalnya saja lilin yang bercahaya bisa kita lihat karena cahayanya dapat ditangkap oleh mata kita. Cahaya ini diubah oleh syaraf sensorik menjadi sinyal-sinyal listrik dan diteruskan ke otak. Otak menginterpretasikan sinyal ini sebagai sebuah ‘lilin yang bercahaya’. Proses seperti ini dapat terjadi hanya pada orang dengan mata sehat/ tidak buta. Orang yang buta tidak akan mengenali lilin sebagai sebuah ‘lilin’.

mata

Saat seseorang meraba lilin tadi, proses yang hampir sama dengan proses melihat tadi terjadi. Rangsangan tekstur lilin tadi diubah menjadi sinyal-sinyal listrik dan diteruskan oleh syaraf sensorik ke otak. Otak menginterpretasikannya sebagai sebuah ‘lilin’.

Dari dua proses di atas timbul suatu pertanyaan besar yang akan menggugah pemikiran dan pemahaman kita mengenai dunia ini. Pertanyaan itu adalah, apakah lilin itu benar-benar sebuah materi ‘lilin’ atau hanyalah sinyal-sinyal listrik yang diinterpretasikan menjadi sebuah lilin oleh otak kita? Bukankah seseorang yang bermimpi melihat lilin juga mengira bahwa lilin yang ada dalam mimpinya adalah materi ‘lilin’ seperti dalam kehidupan nyata?

Bayangkan jika ada orang buta yang juga tidak punya indera perasa/peraba. Bagaimana menurutnya mengenai lilin tadi? Apakah ia akan mengenalinya sebagai sebuah lilin? Sesuatu yang dinamakan materi itu ternyata hanya dapat kita rasakan keberadaannya jika kita mempunyai indera, mata atau indera peraba. Dari sini timbul suatu pemahaman bahwa sangat boleh jadi lilin tadi dan semua yang sekarang kita sebut sebagai materi hanyalah imajinasi otak kita saja. Bahkan otak kitapun termasuk di dalamnya.

Dunia yang Fana dan Akhirat yang Kekal

Pemahaman mengenai hakikat materi tadi seharusnya mengantar kita untuk memahami bahwa alam dunia ini adalah fana, hanya tipuan belaka, fatamorgana, halusinasi. Kemudian, kita harus meyakini bahwa dunia yang kita sebut sebagai dunia gaib itulah yang absolut, yang hakiki. Dunia gaib memang tidak bisa kita raba dan lihat, tetapi sekarang kita sudah tahu bahwa dapat dilihat dan diraba tidak mengindikasikan sesuatu sebagai kenyataan.

Ini seharusnya bisa menjadi pupuk bagi keimanan kita terhadap hal-hal gaib. Alloh SWT tidak dapat kita lihat dan raba, tetapi Ia-lah yang absolute, yang hakiki, yang nyata. Sedangkan kita? Kita dan alam semesta yang sekarang kita tempati ini adalah fana, ilusi, fatamorgana, tidak nyata.

*Tulisan ini berdasarkan pemahaman penulis terhadap film Rahasia di Balik Materi karya harun Yahya

AIDS, atau Perzinahankah yang Lebih Berbahaya?

Pada tahun 2005-an, masyarakat Indonesia digegerkan dengan rencana pemerintah untuk mengadakan ATM kondom di sejumlah daerah. Tidak sedikit kalangan masyarakat yang menentang ide ini. Namun, pada akhirnya ide ini direalisasikan juga. Bahkan di Jakarta sendiri tercatat ada 7 ATM kondom (Detik.com Rabu, 14/12/2005).

Pemerintah berdalih bahwa tujuan dari didirikannya ATM kondom ini adalah untuk menghambat penyebaran virus HIV AIDS sekaligus juga untuk menghambat laju pertumbuhan penduduk yang tinggi. Hingga akhir September 2005 Indonesia sudah memiliki 8.251 kasus HIV/AIDS, terdiri dari 4.065 kasus HIV dan 4.186 kasus AIDS. (Cybermed.cbn.com, 4/12/2005). Salah satu cara penyebaran yang paling sering terjadi dari virus ini adalah hubungan seks.

Dampak

Dengan adanya ATM kondom, tidak hanya penjaja seks atau pasangan suami istri saja yang dapat dengan mudah mendapatkan kondom. Namun juga pemuda bahkan anak-anak. Hanya dengan memasukkan 3 koin Rp. 500,- seseorang dapat mendapatkan 3 buah kondom. Sangat mudah bukan? Layaknya menggunakan telepon umum saja.

Salah satu alasan seseorang tidak melakukan hubungan seks di luar nikah adalah takut hamil. Dengan akses yang mudah tersebut, logikanya pemuda bahkan mungkin anak-anak akan terdorong untuk melakukan hubungan seks dengan menggunakan kondom tersebut, karena resiko hamil dapat dikurangi. Seperti kata Bang Napi, alasan mengapa seseorang melakukan perbuatan kejahatan (dan dosa pada umumnya) adalah adanya niat dan kesempatan. ATM kondom memberikan kesempatan yang luas bagi pemuda untuk melakukan hubungan seks dengan resiko hamil yang rendah.

Akar Permasalahan

dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al Mu’minuun 5-7)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa seseorang yang tidak menjaga kemaluannya, kecuali pada istri dan budaknya* (pada saat sekarang tidak ada perbudakan) adalah orang yang melampaui batas. Bagaimanakah nasib seseorang yang melampaui batas? Ia akan mendapatkan azab di akhirat, bahkan boleh jadi di dunia juga. Artinya, sangat boleh jadi mewabahnya HIV AIDS merupakan bentuk azab Alloh SWT kepada kaum-kaum yang melampaui batas tadi, seperti juga pada kaum Luth (bangsa Sodom) yang ditenggelamkan oleh Alloh SWT ke dalam perut bumi.

Kalaupun sekiranya memang kondom dapat menangkal penyebaran virus HIV AIDS, sangat boleh jadi Alloh SWT mengirimkan azab dalam bentuk yang lain, misalnya gempa bumi, tsunami, banjir, atau wabah penyakit baru yang sekarang belum ada. Bukankah AIDS adalah penyakit baru abad 20? Dan bukankah selain AIDS juga masih banyak penyakit lain yang ditimbulkan melalui seks bebas?

Dari kacamata ilmu pengetahuan, sebagian pakar kedokteran masih meragukan efektivitas kondom dalam mencegah HIV/AIDS. Alasannya, pori-pori karet lateks yang menjadi bahan pembuatan kondom adalah 0,003 mm, sedangkan ukuran virus AIDS adalah 0,000001 mm. Artinya, virus akan dengan mudah masuk melalui celah pori-pori kondom, apalagi dengan disertai tekanan (http://ranjangislam.wordpress.com/2008/08/02/atm-kondom-kemenangan-kaum-free-seks/).

Oleh karena itu, solusi yang seharusnya ditawarkan adalah membentengi diri dari perbuatan zina dan hal-hal yang mendekatkan kita kea arah sana. Nilai-nilai agama harus lebih kuat lagi ditanamkan, mulai di dalam rumah, di sekolah maupun masyarakat. Semua pihak harus ikut serta. Orangtua harus lebih peduli terhadap kebutuhan anaknya. Seorang anak harus diberikan gambaran tentang betapa mengerikannya hukuman yang harus ditanggung dari perbuatan zina. Islam mensyariatkan hukuman cambuk 100 kali bagi pezina yang masih lajang dan rajam sampai mati bagi pezina yang telah menikah. Jika di dunia saja sebegitu keras hukuman bagi para pezina, apalagi di akhirat?

Kaum muda harus juga diperkenalkan dengan figur-figur teladan seperti Nabi Yusuf AS yang menjaga kehormatannya, padahal dipaksa untuk berzina dengan Zulaikha, perempuan yang cantik, berkedudukan tinggi dan Nabi Yusuf AS mempunyai perasaan suka terhadapnya. Atas keshalehannya ini, Nabi Yusuf AS diangkat derajatnya oleh Alloh SWT menjadi menteri dan bahkan kemudian bisa menikahi Zulaikha, mantan majikannya tersebut. Motivasi inilah seharusnya yang secara rutin ditanamkan oleh orangtua, guru, dan pemuka masyarakat kepada generasi muda.

*ayat tersebut tidak kemudian dapat diartikan bahwa islam membenarkan perbudakan, bahkan islam adalah agama yang membebaskan manusia dari perbudakan. Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu: Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam. beliau bersabda: Barang siapa memerdekakan seorang budak mukmin, maka Allah akan membebaskan setiap anggota tubuhnya dari neraka dengan setiap anggota tubuh budak itu. (Shahih Muslim No.2775)

Munajat

manusia mencari
manusia bertanya
manusia berfikir dan mengevaluasi
siapa yang peduli….selain Rabbnya

kesalahan diperbuat dan diulangi
manusia berlari menjauhi fitrahnya
waktu berjalan, entah kapan berhenti
ya Rabb, hanya kepada-Mu lah tempat kembali kami

aku mengaduh, aku meratap
aku mengharap cahaya
aku hilang dalam gelap
aku tersesat
ya Rabb, tunjukilah kami jalan ridho-Mu

Cinta Ini Milik Siapa?

andai juliette tahu bahwa
cinta Rabbnya melebihi segala
melebihi cinta romeo
melebihi cinta capulet
bahkan melebihi cintanya sendiri
apakah mungkin ia akan telah mengakhiri hidup?

untuk alasan apa manusia berputus asa?
apakah untuk cinta?
demi Alloh, siapa pencipta rasa cinta?
lalu siapa pemeliharanya?
lalu siapa yang lebih berhak atasnya?
pastilah Alloh jawaban dari segala pertanyaan

kita menggunakan cinta kepunyaan-Nya
kita menikmati pemeliharaan-Nya
mengapa kita tidak mencintai-Nya?

Ikhlas, Kunci Kesempurnaan Amal

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW. Bersabda;

Shalatnya seseorang dengan berjamaah lebih banyak dari pada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh kali. (HR Muslim dalam kitab al-masajid wa mawwadhiusshalah no. 650)

Hadits ini seolah-olah menjelaskan bahwa harga/nilai dari sholat berjamaah adalah 27 kali lipat dari sholat sendirian. Namun, apakah benar seperti itu? Jika memang benar keadaannya demikian, lalu apakah  salah jika kita melaksanakan sholat berjamaah sebanyak satu kali, kemudian tidak melaksanakan sholat sebanyak 27 kali di kemudian waktu?

Seorang yang memeluk agama Islam (muslim) adalah orang yang dengan sadar menyandarkan hidupnya hanya kepada hokum Alloh SWT. Oleh karenanya, seorang muslim harus siap secara sukarela mengerjakan perintah Alloh SWT. dan menjauhi larangannya, semuanya, tanpa terkecuali.

Di sisi lain, selain harus benar (sesuai dengan sunnah), amal ibadah hanya akan diterima jika dikerjakan dengan ikhlas. Arti dari ikhlas sendiri adalah memurnikan agamanya hanya untuk Alloh SWT. saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.

Dengan demikian, orang yang ikhlas senantiasa bersungguh sungguh, bersemangat, dan merasa senang dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri maupun bersama-sama orang lain.

Oleh karenanya, tentunya sangat mustahil seseorang yang berpikir untuk shalat berjamaah sekali untuk kemudian tidak mengerjakan shalat lainnya sebanyak 27 kali tersebut memiliki rasa ikhlas di dalam hatinya. Dengan tidak adanya rasa ikhlas tersebut, ibadah shalat berjamaahnya tidak akan diterima.

Tentunya sikap ini hanya merupakan ilustrasi ekstrem dari sekian banyak contoh ketidakikhlasan sebagian kita dalam beramal. Bukankah seseorang yang berbuat kemaksiatan, kemudian mengatakan bahwa, “ah, setidaknya aku masih shalat” atau saudara perempuan kita yang mengetakan bahwa, “aku tidak pakai jilbab sih, tapi hatiku kan bersih. Aku juga tidak berzina kok” tidak terlihat keikhlasan dalam mereka beramal? Dan ini tentu saja menjadi sesuatu yang serius karena kemungkinan besar amalnya tidak akan diterima.

Disebutkan dalam hadits, “Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah.” (HR Ibnu Majah). Dari sini, seseorang yang berharap agar amal ibadahnya diterima haruslah melaksanakan Islam secara kaffah (total, keseluruhan, tanpa terkecuali) karena inilah ciri dari keikhlasan.

Kesimpulan

Orang yang ikhlas senantiasa bersungguh-sungguh, bersemangat dan senang dalam beribadah serta tidak pernah merasa kecewa karena hanya ridho Alloh-lah yang dituju. Orang yang ikhlas rela menyandarkan hidupnya hanya kepada hukum Alloh SWT oleh karenanya ia berislam secara kaffah (total, menyeluruh, tanpa terkecuali). Oleh karena itu, kita harus mulai berniat secara sungguh-sungguh untuk melaksanakan Islam secara kaffah serta meniatkan semua amal ibadah kita hanya untuk mencari ridho Alloh SWT. semata. Kemudian, tidak akan menghitung-hitung amal ibadah untuk mentoleransi perbuatan maksiat kita dan tidak akan pernah merasa cukup dengan amal ibadah yang kita kerjakan. Semoga hidayah Alloh SWT. menyertai kita dan semoga kita bisa menjadi hamba-Nya yang ikhlas dalam beribadah.

Wallohu a’lam bi ash showab

Sebuah Refleksi Bagi Kaum Muda

Siapa pencetus nasionalisme perjuangan kemerdekaan Indonesia? Siapa aktor di balik Revolusi 1966? Siapa dalang Reformasi 2008? Jawabannya pastilah pemuda. Sejarah telah membuktikan bahwa pemuda adalah agen perubahan di negeri ini. Lalu, apakah ini membuktikan juga bahwa pemuda telah berhasil menjalankan perannya secara utuh?

Sayyidina Ali RA pernah mengatakan bahwa kemajuan suatu bangsa/Negara bergantung pada kualitas pemudanya. Artinya, jika kualitas pemudanya baik, maka akan baik pula peradaban suatu bangsa/Negara. Bagaimana dengan Negara kita? Saya kira kita sepakat bahwa impian peradaban yang madani dari bangsa ini masih jauh dari genggaman. Oleh karena itu, kita harus juga sepakat bahwa, kualitas pemuda bangsa kita belum baik.

Sukarno muda adalah Sukarno yang penuh dengan idealism. Sukarno tua adalah Sukarno yang banyak mengalami kegagalan dalam mewujudkan idealismenya. Gagasannya tentang Nasakom gagal total. Kekuasaannya kemudian digulingkan oleh pemuda.

Suharto muda adalah pejuang revolusi yang bekerja keras mempertahankan NKRI. Suharto tua lengser gara-gara korupsi, kolusi dan nepotisme oleh pemuda. Lebih dari itu, banyak pemuda yang ikut dalam gerakan Revolusi 1966 justru kemudian tersandung kasus korupsi pada masa tuanya. Sangat boleh jadi, pemuda yang ikut menggulingkan kekuasaan Suharto juga akan mengalami nasib yang serupa suatu saat nanti.

Permasalahan

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. (QS. Al Lail 5-10)

Dari ayat diatas, dapat diketahui bahwa orang yang suka berderma, bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang baik akan dimudahkan Allah baginya melakukan kebaikan yang membawa kepada kebahagiaan di akhirat, tetapi orang yang tidak bertakwa dan melakukan perbuatan dosa akan dimudahkan Allah baginya melakukan kejahatan-kejahatan yang membawa kepada kesengsaraan di akhirat.Orang yang meniatkan hidupnya dan berusaha untuk berbuat dosa akan difasilitasi oleh Alloh SWT untuk berbuat dosa, dan orang yang meniatkan hidupnya dan berusaha untuk berbuat kebajikan akan difasilitasi oleh Alloh SWT kemudahan untuk meraihnya.

Konsekuensi dari ayat di atas adalah orang yang membiasakan diri melakukan perbuatan dosa, akan sangat mudah untuk melakukan perbuatan dosa kembali di lain waktu, baik dosa yang sama maupun tidak, dan sebaliknya. Sebagai contoh, seorang yang berbohong pasti akan mengulangi kebohongannya sebagai upaya untuk menutupi kebohongan yang terdahulu. Sangat boleh jadi, orang yang durhaka terhadap kedua orangtua pada masa mudanya akan tersandung kasus korupsi di kemudian hari, meskipun tidak pernah meniatkannya pada saat muda.

Ketika seseorang berbuat dosa dan tidak segera bertaubat, kadar imannya akan turun. Orang dengan iman yang lemah lebih mudah untuk dibujuk oleh syaitan untuk memperturutkan hawa nafsunya, dan tidak menggunakan potensi akal dan hatinya. Pada saat demikian, hidayah Alloh SWT. akan susah untuk diterima (kecuali jika Alloh SWT. berkehendak lain), sehingga sangat mudah bagi seseorang untuk melakukan perbuatan dosa lagi. Begitu seterusnya.

Tentunya, jika kita memimpikan peradaban yang madani pada bangsa ini, kita harus mau mengoreksi diri kita. Bermuhasabah, menghitung setiap dosa dan kesalahan kita dari yang besar sampai yang sekecil-kecilnya. Tidak ada dosa yang kecil jika terus kita sepelekan. Bertaubat, menyesali, memohon ampun dan berjanji tidak akan mengulangi kembali dosa yang telah dikerjakan tadi.

Kita, sebagai generasi muda harus mau memulai lembaran hidup yang baru. Hidup yang patuh pada ajaran agama, memuliakan orangtua, menjaga pandangan, menjauhi zina, berakhlak mulia, hidup sederhana, disiplin, membudayakan senyum, berusaha menggembirakan orang lain, menjaga kebersihan, tidak mencontek, tidak membuang waktu dengan percuma, tidak makan dengan tangan kiri bahkan tidak tidur dalam posisi tengkurap dan lain sebagainya sembari terus mengharap hidayah dari Alloh SWT.

Pada akhirnya, hak Alloh-lah untuk mewujudkan atau tidak mewujudkan mimpi kita, idealism kita tadi, masyarakat yang madani. Namun, Alloh SWT pasti akan mencatat segala amal perbuatan yang baik dan yang diniatkan untuk mencapai ridho Alloh SWT semata. Semoga hidayah Alloh SWT menyertai kita semuanya. Aamiin.

*Dengan segala hormat, penulis tidak bermaksud menistakan Bapak Sukarno dan Bapak Suharto karena bagaimanapun mereka pernah menjadi pimpinan bagi bangsa ini. Penulis hanya ingin menggambarkan betapa kegagalan yang mereka alami seharusnya bisa dipelajari agar tidak terulang di kemudian hari.

**Seperti khutbah jum’at, tulisan ini juga harus menjadi wasiat bagi penulis sendiri. Semoga penulis bisa melaksanakan apa yang sudah ia wasiatkan sendiri dalam tulisan ini.

Pendakian Pertama

gn gedhe, juli 2008

ini pendakian pertamaku. lelah, dingin, perut kosong, bau belerang, dan tidak mandi. perjalanan 12 km dalam pendakian menuntun kami menuju indah alam-Nya. ba’da shubuh, ditemani kopi dan mie instan. subhanalloh…demi engkau yang menciptakan alam ini ya Alloh, terbayar sudah peluh dan pegal kami. Alhamdulillah.

Unconcious Generation

Akhir–akhir ini wajah pendidikan Indonesia dinodai dengan kasus-kasus yang tidak pantas disandang. Lalu, apakah ini memang cerminan buruknya sistem pendidikan di Indonesia?

Hakikat pendidikan adalah ‘membebaskan.’ Oleh karena itu, seseorang dapat dikatakan terdidik jika  telah mampu membebaskan diri dari kebodohan dan keterbelengguan pola pikir.

Indonesia sebagai negara besar telah mempunyai grand design pendidikan nasional berupa visi pendidikan nasional Indonesia. Isi visi tersebut antara lain adalah terciptanya maasyarakat Indonesia yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, beretos kerja tinggi dan berdisiplin. Hal ini menegaskan bahwa dalam tataran konseptual, visi pendidikan Indonesia sesuai dengan hakikat pendidikan.

Namun, dalam tataran praktis, rasanya pendidikan di Indonesia masih jauh dari visi yang telah dicanangkan. Hal ini bisa dibuktikan dari maraknya aksi kekerasan, baik yang dilakukan guru terhadap muridnya, senior terhadap junior, maupun kekerasan antar siswa yang terefleksi dalam aksi tawuran massal antar siswa. Dunia pendidikan kita juga diwarnai oleh aksi contek mencontek, dan bahkan pembocoran soal UAN. Ini telah dilakukan berkali-kali, terutama setelah adanya standardisasi nilai UAN.

Akar masalah

Kasus-kasus kekerasan seperti yang terjadi di IPDN, atau kecurangan murid dan bahkan oknum guru pada saat UAN yang sering muncul pada periode reformasi ini, tidak serta merta menyimpulkan buruknya sistem pendidikan Indonesia hanya pada masa reformasi saja. Jauh sebelum reformasi ada, sistem pendidikan Indonesia telah cacat sejak awal.

Kecacatan tersebut diindikasikan oleh sebagian kurikulum pendidikan indonesia yang tidak sesuai dengan visi pendidikan. Sebut saja pendidikan sejarah yang diajarkan sejak SD (terangkum dalam IPS) sampai SMA yang orientasinya lebih kepada pengetahuan, bukannya pemahaman. Maksudnya adalah murid dipaksa untuk hafal setiap kejadian yang telah terjadi pada masa lampau tanpa adanya pemahaman terhadap pengaruh setiap kejadian sejarah tersebut pada masa kini, serta masa yang akan datang. Hal ini diperparah dengan realita bahwa masih dipertanyakannya keabsahan sejarah karena dinilai sebagian kalangan hanya sebagai produk kekuasaan. Ini jelas bertentangan dengan peran pendidikan sejarah sebagai alat penguak kebenaran masa lampau dan memanfaatkannya untuk memprediksi masa depan.

Di luar itu, masih ada pendidikan agama dan PPKN yang seharusnya mampu mengarahkan peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Namun, dalam kenyataannya, manusia ideal yang tersebut di atas tidak mampu diciptakan oleh kurikulum pendidikan agama dan PPKN. Jelas terjadi demikian karena kurikulum pendidikan agama dan PPKN yang cenderung dogmatis, tidak berusaha memberikan pencerahan dan penghayatan terhadap nilai-nilai luhur ajaran agama serta norma-norma yang ada. Oleh karena itu, pendidikan yang semacam ini tidak akan terimplementasi secara nyata dalam memperbaiki akhlak bangsa.

Dampak

Buruknya wajah pendidikan itu kemudian berimbas pada terciptanya generasi tak sadar (unconcious generation). Generasi ini adalah generasi yang kehilangan karakternya. Generasi ini hanya melakukan tradisi-tradisi yang telah ada turun temurun, tanpa tahu maksud  dan tujuan tindakan yang dilakukannya. Bahkan, generasi ini bertindak tanpa memperhitungkan dampak yang akan terjadi.

Inilah yang kemudian terjadi di IPDN dan sebagian kampus lainnya. Kekerasan yang kerap mewarnai Orientasi Siswa sebagai sebuah tradisi kemudian dilakukan secara membabi buta. Tak terelakkan lagi, ini kerap meminta tumbal nyawa dari junior tak berdosa. Hal ini semua karena pemahaman mereka yang sempit tentang pembinaan. Sekali lagi, kebiasaan menjelma menjadi sebuah kebenaran.

Sangat disayangkan memang ketika pendidikan hanya mencetak manusia-manusia pintar tetapi tidak mempunyai karakter.

Solusi

Kiranya, perlu langkah konkrit dari segenap pihak, terutama pemerintah dalam menyikapi buruknya sistem pendidikan kita. Pemerintah perlu merombak kurikulum yang ada, serta memberikan prioritas perhatian yang lebih besar terhadap pendidikan nasional. Tugas kita sebagai masyarakat adalah memberikan kontrol sosial terhadap keberlangsungan pendidikan di tanah air. Kemudian, tugas media adalah memberikan informasi yang proporsional terhadap pendidikan kita. Tidak membesar-besarkan, tidak juga menutup-nutupi. Bravo pendidikan Nasional Indonesia!