Unconcious Generation

Akhir–akhir ini wajah pendidikan
Indonesia dinodai dengan kasus-kasus yang tidak pantas disandang. Lalu, apakah ini memang cerminan buruknya sistem pendidikan di Indonesia?

            Hakikat pendidikan adalah ‘membebaskan.’ Oleh karena itu, seseorang dapat dikatakan terdidik jika  telah mampu membebaskan diri dari kebodohan dan keterbelengguan pola pikir.             
            Indonesia sebagai negara besar telah mempunyai grand design pendidikan nasional berupa visi pendidikan nasional
Indonesia. Isi visi tersebut antara lain adalah terciptanya maasyarakat Indonesia yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, beretos kerja tinggi dan berdisiplin. Hal ini menegaskan bahwa dalam tataran konseptual, visi pendidikan
Indonesia sesuai dengan hakikat pendidikan.

             Namun, dalam tataran praktis, rasanya pendidikan di
Indonesia masih jauh dari visi yang telah dicanangkan. Hal ini bisa dibuktikan dari maraknya aksi kekerasan, baik yang dilakukan guru terhadap muridnya, senior terhadap junior, maupun kekerasan antar siswa yang terefleksi dalam aksi tawuran massal antar siswa. Dunia pendidikan kita juga diwarnai oleh aksi contek mencontek, dan bahkan pembocoran soal UAN. Ini telah dilakukan berkali-kali, terutama setelah adanya standardisasi nilai UAN.

Akar masalah

             Kasus-kasus kekerasan seperti yang terjadi di IPDN, atau kecurangan murid dan bahkan oknum guru pada saat UAN yang sering muncul pada periode reformasi ini, tidak serta merta menyimpulkan buruknya sistem pendidikan Indonesia hanya pada masa reformasi saja. Jauh sebelum reformasi ada, sistem pendidikan Indonesia telah cacat sejak awal. 

            Kecacatan tersebut diindikasikan oleh sebagian kurikulum pendidikan indonesia yang tidak sesuai dengan visi pendidikan. Sebut saja pendidikan sejarah yang diajarkan sejak SD (terangkum dalam IPS) sampai SMA yang orientasinya lebih kepada pengetahuan, bukannya pemahaman. Maksudnya adalah murid dipaksa untuk hafal setiap kejadian yang telah terjadi pada masa lampau tanpa adanya pemahaman terhadap pengaruh setiap kejadian sejarah tersebut pada masa kini, serta masa yang akan datang. Hal ini diperparah dengan realita bahwa masih dipertanyakannya keabsahan sejarah karena dinilai sebagian kalangan hanya sebagai produk kekuasaan. Ini jelas bertentangan dengan peran pendidikan sejarah sebagai alat penguak kebenaran masa lampau dan memanfaatkannya untuk memprediksi masa depan.

              Di luar itu, masih ada pendidikan agama dan PPKN yang seharusnya mampu mengarahkan peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Namun, dalam kenyataannya, manusia ideal yang tersebut di atas tidak mampu diciptakan oleh kurikulum pendidikan agama dan PPKN. Jelas terjadi demikian karena kurikulum pendidikan agama dan PPKN yang cenderung dogmatis, tidak berusaha memberikan pencerahan dan penghayatan terhadap nilai-nilai luhur ajaran agama serta norma-norma yang ada. Oleh karena itu, pendidikan yang semacam ini tidak akan terimplementasi secara nyata dalam memperbaiki akhlak bangsa.

Dampak

            Buruknya wajah pendidikan itu kemudian berimbas pada terciptanya generasi tak sadar (unconcious generation). Generasi ini adalah generasi yang kehilangan karakternya. Generasi ini hanya melakukan tradisi-tradisi yang telah ada turun temurun, tanpa tahu maksud  dan tujuan tindakan yang dilakukannya. Bahkan, generasi ini bertindak tanpa memperhitungkan dampak yang akan terjadi.

             Inilah yang kemudian terjadi di IPDN dan sebagian kampus lainnya. Kekerasan yang kerap mewarnai Orientasi Siswa sebagai sebuah tradisi kemudian dilakukan secara membabi buta. Tak terelakkan lagi, ini kerap meminta tumbal nyawa dari junior tak berdosa. Hal ini semua karena pemahaman mereka yang sempit tentang pembinaan. Sekali lagi, kebiasaan menjelma menjadi sebuah kebenaran.

              Sangat disayangkan memang ketika pendidikan hanya mencetak manusia-manusia pintar tetapi tidak mempunyai karakter.

Solusi

            Kiranya, perlu langkah konkrit dari segenap pihak, terutama pemerintah dalam menyikapi buruknya sistem pendidikan kita. Pemerintah perlu merombak kurikulum yang ada, serta memberikan prioritas perhatian yang lebih besar terhadap pendidikan nasional. Tugas kita sebagai masyarakat adalah memberikan kontrol sosial terhadap keberlangsungan pendidikan di tanah air. Kemudian, tugas media adalah memberikan informasi yang proporsional terhadap pendidikan kita. Tidak membesar-besarkan, tidak juga menutup-nutupi. Bravo pendidikan Nasional Indonesia!

Comments (1) »

Mengapa Bioetanol?

 Saat terjadi lonjakan harga minyak dunia hingga mencapai US$ 70/barel perekonomian dunia sangat terganggu. Di Indonesia, keadaan semacam ini sering diperparah dengan aksi-aksi penyelundupan minyak yang telah merugikan Negara tidak kurang dari 8,8 trilyun pertahun. Selain itu, kelangkaan BBM sering terjadi di Indonesia. Dari segi APBN, subsidi BBM di Indonesia masih dinilai cukup tinggi.  Tak pelak, krisis BBM ini disinyalir dapat berimbas melemahnya rupiah terhadap dolar.Subsidi yang cukup besar di Indonesia (sekitar 25%) merupakan pemecahan masalah instant ketika kebutuhan masyarakat terhadap BBM tinggi (mencapai 215 juta liter per hari), sedangkan daya beli mereka rendah. Padahal, jika ini terus dilanjutkan, ketergantungan masyarakat terhadap BBM akan semakin tinggi, padahal BBM merupakan sumber daya yang tak terbarukan. Diperkirakan, dengan teknologi yang ada sekarang, cadangan minyak dunia tidak akan bertahan lebih lama dari 50 tahun. Jika ditelaah lebih jauh, ketergantungan terhadap bahan bakar fosil setidaknya memiliki tiga ancaman serius, yakni: (1) Menipisnya cadangan minyak bumi yang diketahui (bila tanpa temuan sumur minyak baru), (2) Kenaikan/ketidakstabilan harga akibat laju permintaan yang lebih besar dari produksi minyak, dan (3) Polusi gas rumah kaca (terutama CO2) akibat pembakaran bahan bakar fosil. Berdasarkan protocol Kyoto, penggunaan MTBE (Metil Tersiet Butil Ester) yang sering dicampurkan pada bensin seharusnya telah dihapuskan. Hal ini karena MTBE berperan dalam memproduksi gas rumah kaca (CO­2) yang dapat menyebabkan pemanasan global. Jadi, dari berbagai macam masalah yang terjadi dalam penggunaan bahan bakar fosil terutama BBM, sudah saatnya sumber energi baru yang terbarukan sekaligus ramah lingkungan dikembangkan. Bioetanol merupakan alternative penyedia energi dunia.BioetanolBioetanol merupakan senyawa alkohol yang diperoleh lewat proses fermentasi biomassa dengan bantuan mikroorganisme. Bahan baku pembuatan bioetanol dapat berupa ubikayu, jagung, ubijalar, dan tebu. Semuanya merupakan tanaman penghasil karbohidrat yang sangat mudah ditemukan di Indonesia karena iklim dan keadaan tanah Indonesia yang mendukung pertumbuhan tanaman tersebut.Di Indonesia, ubikayu dinilai sebagai sumber karbohidrat yang paling potensial untuk diolah menjadi bioetanol. Hal ini karena ubikayu memiliki daya tahan yang tinggi terhadap penyakit ,dapat diatur waktu panennya serta dapat tumbuh di tempat yang kurang subur. Namun, kadar patinya tergolong rendah (30%)-bandingkan dengan jagung (70%) dan tebu (55%). Brazil merupakan negara yang telah berhasil mengembangkan bioetanol. Di Brazil pada tahun 1990-an, etanol telah menggantikan 50% kebutuhan bensin untuk keperluan transportasi. Dari angka ini, bioetanol telah mampu menurunkan emisi CO2 hingga 18%.Prospek pengembanganSelain berupa bioetanol murni, bioetanol dapat dicampur dengan bensin sehingga dihasilkan gasohol. E-10 merupakan contoh gasohol yang telah digunakan di Indonesia, yaitu gasohol yang mempunyai kadar etanol 10%. Dengan kadar etanol 10% ini dapat direduksi kadar CO yang dibuang sebanyak 40% lebih banyak dari pertamax dan premium. Berdasarkan percobaan BPPT, E10 hanya menghasilkan residu CO 0,31 gram per kilometer. Pada saat yang sama premium dan pertamax masing-masing 0,5 gram dan 0,58 gram per kilometer. Untuk mobil konvensional, maksimum kadar etanol dalam campuran gasohol adalah 24%. Bioetanol merupakan komoditas yang menjanjikan bagi Indonesia. Paling tidak ada tiga faktor yang menyebabkan cerahnya prospek pengembangan bioetanol. Faktor-faktor itu antra lain adalah : 1. Kebutuhan energi yang tinggi dengan daya beli yang kecil dari masyarakat, 2. mudahnya mendapatkan bahan baku dengan harga yang murah, 3. ketersediaan lahan yang relatif memadai.Kebutuhan energi yang tinggi dengan daya beli masyarakat Indonesia yang rendah dapat diatasi dengan penggunaan bioetanol. Hal ini karena pada kondisi harga minyak mentah saat ini biaya produksi bioetanolcenderung lebih murah bila dibandingkan dengan bensin. Biaya produksi bioetanol sangat dipengaruhi oleh bahan bakar yang digunakan dalam proses produksinya. Saat ini, Pada kapasitas produksi bioetanol 60 kiloliter per hari, biaya pokok produksinya Rp 2.400. Sementara itu, dengan harga minyak mentah mendekati 60 dollar AS per barrel, biaya pokok produksi BBM meningkat mendekati Rp 4.000 per liter. Brazil merupakan negara yang mampu memproduksi bioetanol dengan harga termurah. Ini karena listrik dan steam yang digunakan dalam proses dapat dipenuhi melalui pembakaran ampas tebu, sehingga biaya produksinya cuma separuh harga bensin.Di lain pihak, dengan produktifitas rata-rata bioetanol 5.000 liter/ha per- tahun, jika diasumsikan konsumsi seluruh bensin sebesar 16 juta kilo per-tahun dapat diproduksi dengan budidaya bahan baku seluas 3,2 juta hektar saja (1,7% dari luas daratan Indonesia). Jika dalam waktu dekat ini, bahan baku serat selulosa (jerami dan sejenisnya) dapat bersaing dengan pati-patian dan gula, jumlah lahan yang digunakan menjadi lebih sedikit. Selain itu, di Indonesia dengan lautnya yang luas berpotensi dibudidayakan ganggang laut yang juga dapat menjadi bahan baku bioetanol. Prospek bisnisDilihat dari segi bisnis, bioetanol mempunyai prospek yang bagus. Sebagai gambaran, biaya investasi kilang bioetanol kapasitas 100 kL/hari berkisar antara Rp 2-3 milyar per-kiloliternya. Dengan harga etanol yang dihitung sama dengan bensin saja, pembangunan 1 pabrik ukuran ini akan menghemat devisa untuk impor bensin sebesar 33.000 kL/tahun x Rp 5.450,- /liter atau Rp 179.850.000.000,-. Dari sudut pandang pemerintah, penggunaan bioetanol juga sangat menguntungkan. Dengan asumsi subsidi untuk BBM Rp 89.2 triliun dan seperempat BBM kita adalah bensin, maka diperoleh angka Rp 22,3 triliun yang dapat digunakan untuk membangun pabrik bioetanol 89 buah @ kapasitas 100 kL/hari. Bioetanol yang dihasilkan adalah 2.937.000 kL/tahun atau mensubsitusi hampir 20 % kebutuhan bensin di tanah air dengan penghematan devisa Rp 89,2 triliun. Ini nantinya akan berdampak pada tersedianya lapangan pekerjaan besar-besaran bagi masyarkat, terutama karyawan pabrik maupun petani.Butuh kebijaksanaan pemakaianTerlepas dari analisa bagusnya prospek pengembangan bioetanol, masyarakat, pelaku bisnis dan pemerintah diwajibkan untuk bijaksana dalam mengambil langkah. Selain kebaikan-kebaikan yang telah dipaparkan ternyata pengembangan bioetanol disinyalir mempunyai kekurangan. Kekurangan tersebut antara lain adalah: 1. penggunaan karbohidrat yang besar berpotensi untuk menyaingi kebutuhan makanan pokok, 2. berpotensi menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati melalui monokultur bahan baku berikut praktek-praktek pertanian yang merusak kualitas lahan, 3. penggunaan lahan yang besar berpotensi terhadap pembukaan lahan (sangat mungkin hutan).Melihat beberapa kelebihan dan kekurangan yang dimiliki bioetanol, agaknya memang sudah saatnya Indonesia menggunakan bioetanol, dengan syarat dibarengi dengan perundang-undangan yang baik serta pengembangan teknologi yang sepadan. Pada masa yang akan datang diharapkan bahan baku bioetanol lebih banyak berasal dari selulosa (misal tahi kayu hasil penggergajian) maupun ganggang, karena tidak berpotensi bersaing dengan kebutuhan pangan pokok serta tidak memerlukan pembukaan lahan yang besar di daratan.  (Have Written On February 2007)

Leave a comment »

Prospek Bisnis Biodiesel

            Dalam sejarahnya, manusia tidak pernah lepas dari ketergantungan dengan energi. Konsumsi Energi dalam jumlah besar merupakan ciri dari peradaban manusia modern.            Sejak ditemukannya api oleh nenek moyang kita, umat manusia mulai berusaha memanipulasi energi. Seiring dengan kebutuhan, tingkat manipulasi energi oleh manusia kian besar. Hal ini tak pelak menuntut pengeksploitasian sumber-sumber energi yang semakin gencar. Namun, pengeksploitaasian itu masih terbatas pada energi tak terbarukan, seperti minyak bumi, gas alam, dan batu bara.

            Sungguh sangat disayangkan, sumber energi yang selama ini selalu menjadi primadona itu akan segera habis, sedangkan kebutuhan energi senantiasa meningkat tiap saatnya. Dua hal yang saling bertentangan. Lalu, apa solusinya?

            Biodiesel merupakan salah satu energi alternatif  yang banyak diramalkan para pakar energi dapat menggantikan peran minyak bumi, gas alam, dan batu bara dalam memenuhi pasokan energi dunia. Biodiesel terutama dapat digunakan dalam bidang industri untuk menggantikan peran solar sebagai bahan bakar. Selain ramah lingkungan, teknologinya yang lebih mudah, serta relatif lebih murah, alasan mengapa biodiesel mampu menggantikan sumber energi fosil adalah tentu saja karena biodiesel merupakan energi terbarukan.

Prospek bisnis

            Dari sudut pandang bisnis, harga yang relatif murah merupakan pertimbangan khusus untuk mengembangkan bisnis di bidang biodiesel. Dengan tingkat efisiensi produksi berkisar 82%, biodiesel yaang merupakan campuran dari (terutama) CPO (crude palm oil) 86% dan metanol 14% mempunyai harga jual lebih murah dibandingkan harga solar tanpa subsidi. Di pasaran internasional, harga biodiesel adalah Rp. 5.200,-/kg sedangkan harga solar tanpa subsidi Rp. 6.118,-/kg (kurs dollar Rp. 9.200,-).

             Di atas merupakan paparan berdasarkan data-data harga terkini mengenai biodiesel. Dengan semakin menipisnya cadangan sumber energi fosil, terutama solar diperkirakan harga solar akan membumbung tinggi. Maka, bisa dipastikan mau tidak mau suatu saat dunia akan menggunakan sumber energi biodiesel.

             Dari data statistika, permintaan dunia akan energi biodiesel terus maningkat. Permintaan ini akan terus meningkat dalam tahun-tahun yang akan datang dengan catatan bahwa harga CPO di pasar internasional sebagai pilihan utama bahan baku biodiesel dapat dipertahankan US$ 420/ton. Hal ini dengan mempertimbangkan makin kuatnya pertumbuhan ekonomi di negara-negara berpenduduk besar seperti China, India, Russia, Indonesia, Brazil, Pakistan dan Mexico,  harga energy yang tinggi dalam jangka panjang, perkiraan meningkatnya kemakmuran di Timur Tengah, Afrika Utara dan Afrika Barat.

Pengembangan bisnis

           Dengan segala peluang bisnis yang ada, tentunya keberhasilan pengelolaan bisnis biodiesel bergantung kepada kredibilitas perusahaan pengembang. Setidaknya ada tiga parameter utama yang dapat digunakan, yaitu kehandalan dan pengalaman manajemen perusahaan dalam negosiasi dengan pihak pembeli untuk mendapatkan pembayaran segera (Trade Receivable), kehandalan dan pengalaman manajemen perusahaan dalam proses produksi (menekan waktu produksi dan penyimpanan barang – inventory days), serta kredibilitas perusahaan dalam mendapatkan tenggang waktu dalam pembayaran (Trade Payable).Selain hal di atas peran pemerintah sangat penting dalam mendukung terciptanya suasana yang kondusif untuk berinvestasi dan berbisnis.

             Dari segi bisnis penyediaan CPO, ada tiga hal yang dapat dilakukan pemerintah, yaitu adalah memudahkan pengurusan perizinan pembukaan lahan (oleh Pemda), meringankan pajak oleh Pemerintah Pusat/Daerah, serta subsidi bunga oleh institusi bank.

            Dari segi produksi biodiesel, paling tidak ada tiga hal yang dapat dilakukan pemerintah, antara lain mengeluarkan kebijakan yang mendorong pengembangan industri biodiesel, meringankan pajak oleh Pemerintah Pusat/Daerah, serta memberikan subsidi pada pabrik biodiesel dalam membeli bahan baku.Walaupun telah ada energi terbarukan, kiranya kita harus tetap hemat dalam menggunakan sumber-sumber energi yang telah ada. Karena, tidak menutup kemungkinan suatu saat akan terjadi hal-hal yang tidak diharapkan terjadi pada energi terbarukan tersebut. Baik dalam hal teknologinya, hubungannya dengan lingkungan, atau dari aspek ekonominya.  (Have Written On January 2007)

Leave a comment »

Hakikat Pahlawan

            Kata pahlawan agaknya tidak asing lagi bagi kita. Dengung istilah ini paling tidak masih membekas dalam ingatan kita. Istilah ini mau tidak mau mengajak kita bernostalgia dengan masa-masa di bangku sekolah dasar. Masa di mana kita diperkenalkan dengan istilah Pahlawan Kebangsaan, Pahlawan Revolusi, bahkan sampai dengan Pahlawan Reformasi. Namun, sejauh apakah pemahaman kita tentang pahlawan?            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan berasal dari kata ‘pahala’ dan kata ’wan’. Sepintas lalu, kita dapat mengartikan pahlawan sebagai orang yang bekerja untuk mendapatkan pahala. Dalam pengertian ini, seorang pahlawan selalu berorientasi pada pahala. Lalu, haruskah kita berjenggot panjang dan bersorban tebal untuk bisa meraih gelar pahlawan?            Jika ditilik lebih jauh, pemahaman tentang pahlawan sangatlah kontekstual. Seorang pemimpin merupakan pahlawan bagi rakyatnya, seorang guru merupakan pahlawan bagi muridnya, seorang dokter merupakan pahlawan bagi pasiennya, bahkan seorang ayah merupakan pahlawan bagi anak dan keluarganya. Kesimpulan sementara kita menyatakan bahwa seorang pahlawan adalah orang yang bisa bermanfaat bagi orang lain, atau singkatnya seseorang yang dibutuhkan orang lain.            Jadi, dari uraian di atas, siapakah sebenarnya yang patut menyandang gelar pahlawan sejati bagi kita? Sebagai seorang muslim tentunya kita sepakat bahwa hanya Muhammad SAW lah yang pantas menyandang gelar pahlawan sejati, karena beliaulah penyelamat umat manusia dalam tataran dua dimensi sekaligus, dimensi dunia dan dimensi akhirat. Hal ini tentunya menjadi suatu kewajaran karena sifat kerasulan yang diembannya langsung bersumber dari Allah SWT. Lalu, bolehkah kita memberi gelar pahlawan kepada selain Muhammad SAW? Jika ada, siapa?            Menarik mengupas tentang hakikat pahlawan karena dalam beberapa dekade terakhir ini Indonesia seakan-akan kehilangan figur seorang pahlawan. Kita merindukan figur-figur seperti Gajah Mada yang bertekad bulat menyatukan seantero Nusantara ataupun Pattimura yang dengan gagah berani mengorbankan nyawanya demi kemerdekaan Maluku dari penjajahan. Namun, sekarang pahlawan-pahlawan itu hanya dapat kita temukan dalam lembaran-lembaran buku sejarah yang jarang kita baca. Pattimura dan Gajah Mada hanya menjadi simbol kepahlawanan yang tak mampu kita tiru dan realisasikan semangat juangnya, keberanian dan kerelaannya berkorban.            Rakyat Indonesia kemudian mencari-cari  siapakah sebenarnya figur yang patut  untuk dijadikan pahlawan, figur panutan dan teladan. Hal ini kemudian merangsang munculnya kembali mitos tentang ratu adil yang konon akan datang untuk memimpin negeri ini serta mengantarkannya menuju puncak kejayaannya. Rakyat Indonesia kemudian seolah-olah hanya mampu pasrah pada keadaan karena selalu menunggu dan berharap kedatangan ratu adil yang dijanjikan itu.               Menyikapi hal tersebut di atas, Anis Matta -seorang penulis- dalam bukunya ‘Mencari Pahlawan Indonesia’ menuturkan bahwa kecenderungan menunggu ratu adil merupakan langkah mundur bangsa dan oleh karenanya perlu ada penyadaran kepada rakyat bahwa ratu adil selamanya tidak akan pernah datang seperti yang dijanjikan dalam mitos. Ratu adil menurut Anis Matta ada dalam diri setiap insan Indonesia. “Ratu adil ada di sini, ratu adil adalah aku engkau dan kita semua,”ungkap Anis Mata. Selain itu, Anis Mata juga menyatakan bahwa kelangkaan figur pahlawan merupakan awal dari kematian suatu bangsa.             Dari paparan di atas kiranya dapat kita simpulkan bahwa sudah saatnya bangsa ini tersadarkan dari tidur panjang memimpikan datangnya ratu adil. Sudah saatnya mereka bergerak dan bertindak, karena pada hakikatnya jiwa kepahlawanan ada dalam setiap individu, tinggal kita gali dan kita bina. Setiap kita mampu untuk menjadi pahlawan, paling tidak untuk keluarga kita, saudara kita, atau sahabat kita.            Namun, setiap kita juga harus sadar bahwa pahlawan merupakan gelar yang sangat mulia, yang hanya pantas diberikan seseorang kepada yang lainnya karena perannya dalam kehidupan. Pahlawan bukanlah gelar yang dapat dikultus individukan seperti ketika Suharto manamai dirinya sebagai ‘bapak/pahlawan pembangunan’. Kita harus sadar bahwa dalam setiap amal baik yang kita lakukan terkandung nilai-nilai kepahlawanan. ketika kita rela berkorban untuk orang lain, di situlah jiwa kepahlawanan muncul.            Jadi, pertanyaan sebenarnya adalah sebesar apa usaha kita menggali jiwa-jiwa kepahlawanan dalam diri kita?                                           

                                                     (Have Written On November 2006)

Leave a comment »

Peran Pemuda dalam Proses Akselerasi Perbaikan Bangsa

Satu nusa… satu bangsa… satu bahasa kita…Tanah air pasti jaya…untuk slama-lamanya… 

Itulah sebait lagu satu nusa satu bangsa yang menunjukkan kepada kita besarnya semangat dan cita-cita pemuda dalam masa pergerakan untuk mewujudkan sebuah negara bernama Indonesia yang bersatu. Pemuda adalah generasi penerus bangsa. Keabsahan slogan ini tidak terbantahkan karena mau tidak mau, sanggup atau tidak sanggup, pemudalah yang akan menggantikan kedudukan generasi-generasi sebelumnya dalam membangun bangsa. Selain itu, pemuda sudah sepantasnyalah menjadi agent of change, pembawa perubahan, yang membawa bangsa ini menjadi lebih baik, lebih bersatu, lebih makmur, lebih demokratis, dan lebih madani. Inilah kira-kira peran pemuda yang seharusnya dapat diwujudkan bersama.Menilik sejarah, pada awal abad ke-20 Indonesia diwarnai oleh pergerakan kebangsaan yang tidak lain dimotori oleh para pemuda pada zaman itu. Sejarah mencatat Budi Utomo sebagai organisasi pertama yang mengubah watak pergerakan perlawanan, yang semula bersifat kedaerahan menjadi bersifat kebangsaan. Bangsa Indonesia disadarkan bahwa untuk dapat mencapai kemerdekaan, seharusnnya ada persatuan dan perasaan senasib yang melandasi perlawanan terhadap penjajah.Setelah dipelopori Budi Utomo sebagai organisasi kebangsaan pertama, bermunculanlah sekian banyak organisasi kebangsaan lainnya. Muhammadiyah, NU, Serikat Dagang Indonesia, Taman Siswa, sampai dengan PNI sebagai partai pertama yang dimiliki bangsa ini adalah contohnya. Kesemuanya memiliki orientasi dan cita-cita yang sama, persatuan dan kemerdekaan Bangsa Indonesia.Sampai pada hari yang sangat menentukan bagi masa depan Bangsa Indonesia, 28 Oktober 1928 Kongres Pemuda II diselenggarakan di Jakarta. Kongres ini setidaknya menghasilkan tiga point penting, yakni kesadaran berbangsa Indonesia, bertanah air Indonesia, dan berbahasa nasional, Bahasa Indonesia. Inilah moment dimana semangat nasionalisme dikobarkan dan sedikit demi sedikit perasaan kedaerahan yang berlebihan dikikis dan diminimalkan. Inilah akselerator perjuangan perlawanan terhadap penjajah yang akhirnya mencapai titik kulminasinya melalui proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Inilah keadaan pemuda pada zaman pergerakan, hampir satu abad yang silam. Sekarang??Sebuah angket mengenai penghayatan makna sumpah pemuda yang diselenggarakan sebuah media terkemuka menggambarkan betapa minimnya penghayatan terhadap nilai-nilai sumpah pemuda. Ketika ditanya tentang apa itu sumpah pemuda, Suprapto (17), siswa kelas II Sekolah Menengah Umum (SMU) Muhammadiyah 6 Surabaya mengutarakan ”Dari pelajaran sejarah di sekolah sejak SD memang saya tahu kalau tanggal 28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Namun, hanya tahu sebatas tanggal saja. Selebihnya saya tidak tahu,”Ironi memang melihat fenomena ini, tapi itulah yang terjadi. Pemuda pada zaman sekarang seolah-olah tidak mewarisi semangat nasionalisme yang didengung-dengungkan Sukarno, Hatta, Syahrir dan banyak tokoh-tokoh pemuda lainnya beberapa dasawarsa silam. Agaknya, tidak salah jika sebagian orang mengatakan bahwa nasionalisme pemuda kita telah berubah menjadi materialisme dan hedonisme, patriotisme telah berubah menjadi apatisme. Fenomena ini dapat kita tangkap dari keengganan sebagian pemuda kita untuk memikirkan masalah kebangsaan. “Jangankan soal kebangsaan, untuk masalah yang ada di sekitarnya saja banyak yang tidak peduli. Untuk berorganisasi di tingkat sekolah saja susah mengajak dan melibatkan mereka. Yang dipikirin cuma bersenang-senang dan kepentingannya sendiri,” ujar Savitri (16), siswa kelas II SMK Ketintang I Surabaya ketika ditanya tentang keadaan pemuda di sekolahnya. Banyak sebab yang menjadi pemicu lunturnya semangat kebangsaan yang merupakan warisan para pendahulu Republik ini. Salah satunya adalah kejenuhan para pemuda dalam memandang wacana kebangsaan yang dikumandangkan elite polotik kita. Mereka melihat tidak adanya figur teladan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi perbaikan keadaan bangsa.Selain itu, sebab lainnya adalah tidak adanya kepercayaan dari golongan tua kepada golongan muda untuk mengadakan transfer ilmu, pengalaman dan kewenangan. Banyak kaum muda yang merasa bahwa kemampuan mereka dalam suatu bidang kurang bisa ditampilkan secara maksimal oleh karena tidak adanya kesempatan untuk menduduki posisi yang penting dalam menentukan kebijakan di negeri ini. Sebagian besar elit politik kita masih memegang paradigma lama yang kurang menghargai profesionalisme dan lebih mementingkan koneksi.Sebagian besar pemuda, putra-putri terbaik bangsa yang berprestasi dan kemudian mendapat beasiswa ke luar negeri merasa bingung ketika lulus. Mereka dihadapkan kepada pilihan bekerja di luar negeri dan hidup sejahtera atau pulang ke Indonesia dan hidup seadanya (kalau tidak ingin disebut menderita). Hal ini karena minimnya penghargaan (terutama dalam bentuk gaji) negara terhadap profesional ini. Oleh karena itu, banyak dari mereka yang memilih untuk bekerja di luar negeri dan lupa berkontribusi terhadap negara.Dihadapkan pada masalah tersebut, kita seyogianya dapat memandang secara arif bijaksana untuk kemudian menyelesaikannya. Sudah saatnya kita memiliki figur elit politik yang benar-benar mampu berkontribusi secara nyata-tidak sekedar wacana-terhadap proses perbaikan bangsa dan yang sadar akan pentingnya regenerasi, sehingga lebih memberkian tempat bagi kaum muda untuk dapat berperan sesuai kompetensinya dalam menentukan arah kebijakan negara.Dari sudut pandang pemuda, seharusnya pemuda lebih mengetahui perannya sebagai agen perubahan ke arah yang lebih baik. Pemuda harus lebih memupuk rasa cinta tanah airnya dan meningkatkan kemampuannya sesuai dengan kapasitasnya, sehingga mampu untuk memperbaiki keadaan bangsa, mewujudkan cita-cita besar sumpah pemuda sesuai kompetensinya masing-masing.Dari contoh kasus beasiswa ke luar negeri yang diterima sebagian pelajar kita misalnya, belajar dari China seharusnya ketika lulus mereka mencari pengalaman terlabih dahulu di perusahaan luar negeri. Baru setelah merasa cukup berpengalaman, mereka pulang untuk berkontribusi membangun Indonesia sesuai kompetensinya masing-masing. Untuk itu, perlu kesiapan dari para generasi tua untuk mengubah paradigma berpikir dan kemudian memberi kewenangan kepada generasi muda untuk berkarya. Selain itu, negara kita harus memiliki kebijakan yang berorientasi pada kemajuan pendidikan dan riset. Karena dari segi itulah kaum muda dapat berperan.

                                             (Have Written On October 2006)

Leave a comment »

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Comments (1) »